RESENSI NOVEL DILAN 1991

Resensi Novel Dilan 1991 



Judul : Dilan 1991
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Book (Mizan Group) 
Tahun Terbit :tahun 2017
Genre: Fiksi Remaja, Romansa
Jumlah Halaman: Sekitar 344 halaman

Cerita dimulai dengan hubungan Dilan dan Milea yang semakin kuat setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Milea merasa bahagia dengan perhatian dan cara Dilan yang unik dalam menunjukan cintanya, meskipun Dilan dikenal sebagai anggota geng motor yang sering terlibat perkelahian. 

Konflik utama dalam novel ini berputar pada dilema Milea yang harus menghadapi kekhawatiran konstan akan keselamatan Dilan. meskipun Dilan adalah siswa terpintar di kelasnyakelasnya, ia tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan geng motornya, yang sering membawanya pada masalah, termasuk perkelahian dan urusan dengan polisi. 

Ada juga beberapa insiden penting seperti kemunculan pihak ketiga yang kerap di alami oleh milea yang mendapatkan godaan dari pria lain, termasuk Beni (mantan pacarnya), Kang Adi (guru privatenya), dan Yugo (sepupu dari Belgia). Semua godaan ini di tolak oleh milea karena kesetiaanya kepada Dilan. 

Pada akhirnya kekhawatiran Milea mencapai puncaknya karena salah satu teman Dilan tewas akibat perkelahian geng. Milea yang frustasi dan lelah dengan janji Dilan yang tidak di tepati untuk meninggalkan gengnya, akhirnya menampar Dilan dan memutuskan hubungan mereka. Dilan, yang saat itu sedang merencanakan penyerangan lain, mengabaikan Milea dan kemudian ditangkap polisi karena menggunakan pistol ayahnya. 

Pada akhirnya hubungan mereka kandas. Dilan menjauh dan Milea menyelesaikan kuliahnya hingga lulus. Cerita ini menunjukan bahwa cinta mereka sangat kuat, perbedaan prinsip dan gaya hidup membuat hubungan mereka sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

 Gaya Bahasa Yang Khas: Pidi Baiq berhasil menciptakan narasi yang ringan, jenaka, dan mengalir, khas cara bicara remaja tahun 90an, membuat pembaca betah membaca berlama lama. 

Latar Otentik: Latar kota Bandung tahun 90-an berhasil di gambarkan dengan baikbaik, memberikan nuansa nostalgia bagi pembaca yang mengalami masa remaja di era tersebut. 

Pesan Moral: Meskipun kisah cinta remaja, novel ini menyisipkan pesan moral tentang pentingnua komunikasi dalam hubungan,bahaya kekerasan (tawuran), dan kerugian dati dendam yang dipelihara

Sudut Pandang Terbatas: Cerita sepenuhnya dari sudut pandang Milea, sehingga pembaca terkadang kurang memahami motif dari perasaan dilan secara mendalam

Kisah Yang Cukup Sedih: Bagi Pembaca yang berharap akhir bahagia, novel ini mungkin terasa sedikit mengecewakan karena berujung pada perpisahan, meskipun realistis. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI LAGU NADIN AMIZAH MENDARAH